Pulang kuliah memang melelahkan, apalagi menunggu kereta ekonomi yang sudah satu jam lewat tak kunjung datang, masih mending kali ini satu jam. Pernah waktu itu gw nunggu kereta ampe dua jam setengah, parah abis emang KRL di Jabodetabek. Giliran kereta udah dateng, eh yang ada tuh isi gerbong penuh semua. Beuh… ampe kapan yah rakyat biasa bisa menikmati fasilitas yang nyaman sekaligus aman kalau naik kereta khususnya Kereta Ekonomi. Cape memang klo mau ngomongin KRL di negara ni. Kita liat aja negara lain, mereka udah berlomba-lomba membuat kereta dengan kecepatan yang super dahsyat..eh di negara ini rasa nyaman pun susah apalagi aman. Makanya kali ini gw gak mau membahas KRL terlalu banyak.
Kembali ke topic, hehe. Ceritanya masih di KRL, daripada bete gw stel radio. Channel yang gw diputar itu Elshinta radio. Pas gw dengerin, berita yang lagi “in” yaitu masalah kualitas buah-buahan Indonesia. Saat itu ada wawancara antara Pihak Paguyuban Buah-buahan Se-Indonesia dan Anggota DPR untuk namanya gw lupa ..hehe. Dari hasil wawancara itu ternyata selama ini buah-buahan yang ada di negara ini sebagian besar hanya bisa “mejeng” di pasar induk doank. Hanya sebagian kecil yang bisa tembus ke pasar Luar negeri contohnya ke Singapura. Kalau pun lolos itu hasil pemilihan yang sangat sulit tuk dikirim.
Tapi untungnya masih ada buah yang di andalkan misalnya Salak yang kabarnya masih rutin ekspor ke Pasar Swalayan di Singapura. Sebenarnya pangsa pasar di Singapura cukup menjanjikan. Karena, Singapura merupakan tempat tujuan rekreasi para wisatawan dari berbagai negara simpelnya secara tidak langsung kita bisa mempromosikan produk buah-buahan dari negara kita kepada para wisatawan dari berbagai negara.
Akan tetapi negara kita baru bisa memenuhi kebutuhan buah-buahan di Singapura baru sebanyak 6%, sehingga diperlukan peningkatan yang sangat signifikan supaya negara kita bisa mengalahkan produksi Negara Malaysia yang sudah mencapai 48%. Menurut pihak paguyuban kualitas dan kuantitas buah-buahan di negara kita bisa saja mencapai angka 20% asalkan pihak pemerintah benar-benar mendukung dalam hal sarana dan prasarana. Soalnya di negara kita belum ada yang namanya kawasan khusus untuk pertanian buah-buahan, sehingga keterbatasan lahan masih menjadi kendala, dan juga kurangnya tenaga ahli yang benar-benar memberikan sebuah arahan yang sesuai aturan kepada Petani terkait cara bertani yang ideal. Sangat jauh berbeda dengan negara Thailand yang sudah memprediksikan jumlah buah yang akan di panen walaupun tanaman itu masih berbunga.
Kalau dari sudut pandang gw untuk meningkatkan pertanian khususnya buah-buahan perlu di tinjau masalah lingkungan dan infrastruktur yang memadai dan ideal untuk pertanian. Karena kalau dipandang dari segi teknik sipil dan lingkungan yang udah gw pelajarin selama ini memang kondisi lingkungan itu sangat penting pengaruhnya. Terlebih mempertahankan kondisi lingkungan ideal untuk pertanian tersebut seperti, cuaca, pengolahan limbah, distribusi air, dan lain-lain. Selain itu, infrastruktur pun tak kalah penting dalam meningkatkan pendistribusian jumlah hasil produksi pertanian ke pasar atau tempat-tampat lainnya. Karena semakin lancar transportasinya maka semakin berkurang pula resiko buah-buahan yang busuk.
Singkat kata, sumbangsih ide gw untuk permasalah ini yaitu kita musti merekayasa lingkungan dan infrastruktur di sekitar lahan pertanian, yang disesuaikan dengan jenis tanaman atau buah-buahan yang akan di tanam. Mulai dari :
- Membuat sumur setempat, ini udah pasti dibuat para petani apabila jarak sungai ke lahan pertanian sangat jauh. Apabila memang dekat dengan sungai, bisa saja membuat pompa hisap bertenaga angin yang bisa mengambil air dari titik terendah sungai ke titik pertanian.
- Membuat instalasi air bersih yang berfungsi sebagai penyemprot tanaman. Desain instalasinya dibuat agar bisa berfungsi juga sebagai penyemprot vitamin atau pembunuh hama juga.
- Membuat Saluran buangan air hujan, lebih terstruktur dengan rapi.
- Membuat tempat pengolahan limbah organik yang berasal dari tanaman itu sendiri, yang kemudian bisa dijadikan pupuk.
- Menjaga kualitas cuaca di lahan pertanian, nah disini perlu adanya alat-alat pencatat cuaca yang bisa mengukur tingkat evaporasi(penguapan), pencatat angin, pencatat hujan, pencatat panas suhu matahari, alat -alat seperti ini biasanya dimiliki oleh BMKG. Dengan mengetahui kondisi cuaca harian, mingguan, dan bulanan, sehingga bisa memprediksikan waktu yang tepat untuk bercocok tanam ataupun panen.
- Untuk segi infrastrukturnya, yang menjadi kendala para petani selama ini adalah minimnya akses jalan dari lahan pertanian ke tempat pemasaran, sehingga nilai jual buah-buahan yang ada akan menjadi tinggi akibat besarnya biaya transportasi yang harus dikeluarkan.
Hanya segitu dulu uneg-uneg dari gw perihal pertanian yang sedang stagnan akibat tidak adanya perhatian dari pemerintah. Mohon maaf klo tulisan gw ngaco dan berantakan, atau bahkan gak nyambung..hehe…maklum udah 5 watt nih mata. Sangat di tunggu lho tanggapan dan juga ide-ide yang bisa menyelesaikan permasalahan pertanian di negara kita.
Pesan dari gw sih, walaupun pemerintah gak serius dalam hal ini, gw harap kita sebagai generasi muda bisa meningkatkan kesejahteraan para petani. Entah apapun caranya yang penting tidak merugikan orang lain.
